Lullabies

When the night called

As the skies bawled

The oaks became lullaby

Telling the red clouds a goodbye.
Covered in fire and ashes

Her dress was burning: tears on eyelashes

Couldn’t resist the smoke

The morning awoke.
She longed for some stories

When memories couldn’t be more ease

She’d raise and touch the skies

No more worries about goodbyes.
Surabaya, June 16th, 2017


Haunted

You can bury the memories, but you can’t fade them out. They keep calling and giving you a haunting peace.

They’re crawling on your wall, hanging on your lamp, sleeping on your couch, hiding under your pillow.

They’re alive.

Living around you. Breathing the air you breathe. Smelling the perfume you smell. Tasting the coffee you sip.

They’re alive.

Living inside you. In your head. In your eyes. Admit it! They’re running in your heart; trying to escape.

But you won’t let them.

You just pretend you will. But you won’t.

Warna Favorit

“Apa warna favoritmu?“ aku mendengar ada yang bertanya padaku semalam.

Aku sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab ringan. “Mengingat usiaku yang sudah tidak lagi muda ini, rasanya persetan dengan warna favorit.“

“Kamu tidak punya warna kesukaan?” suara itu, yang entah siapa, terdengar sedikit heran, meski aku yakin dia pun tidak memiliki warna kesukaan. Atau mungkin punya, atau tidak. Entahlah.

“Aku tidak bisa memutuskan apakah aku menyukai warna tertentu, sementara aku merasa baik-baik saja dengan warna pakaian yang kuputuskan untuk kukenakan maupun warna-warna benda lain yang kupunya.”

“Seperti?”

“Tembok kamarku berwarna ungu, spraiku berwarna ungu, tirai kamarku berwarna ungu, jaketku berwarna ungu, sepatuku berwana ung… Hei! Ternyata aku punya warna kesukaan!”

 

Bintang Jatuh

Aku kurang enak badan hari ini. Semalam, langit menjatuhkan bintang banyak sekali. Entahlah, tapi itu membuatku kesakitan. Setahuku, bintang jatuh biasanya diiringi dengan doa dan harapan yang konon pasti terkabul ketika dipanjatkan dengan sungguh-sungguh. Barangkali aku tidak mengucapkan doaku dengan benar?

Kemudian aku ingat, aku tidak menggumamkan doa apapun ketika bintang berjatuhan. Apakah kau mencobanya semalam?

Kakek dan Kisah Burung Hantu

Petang tadi selepas maghrib aku merebus mi instan di dapur. Terkadang aku agak merinding juga berada di dapur sendirian. Tepat di belakang dapur kami adalah pekarangan yang sangat luas, penuh dengan pohon kopi dan salak. Ketika matahari mulai terlelap, kerap terdengar suara-suara binatang malam dari arah pekarangan. Baru saja aku mendengar suara burung hantu.

Aku jadi ingat almarhum kakek. Kakekku meningggal saat aku duduk di bangku kelas tiga SD. Itu berarti sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Sudah lama sekali.

Dulu sekali, saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak, hampir setiap hari selepas sholat maghrib berjama’ah di surau dekat rumah kami, dan setelah kakek menyimak dan mengajariku membaca Iqro jilid 3, beliau selalu mengajakku duduk di bangku kayu tua di beranda depan. Halaman rumah kami masih luas sekali kala itu. Penuh dengan tanaman beluntas dan Continue reading “Kakek dan Kisah Burung Hantu”

Monologue

What if I never come home again?

For me, going back home is like riding a bicycle. I know exactly how to get there, I recognize every inch of the roads and rivers  and bridges and those old buildings, even the meadows. I just never think that I will be going home. Not yet.

It has been several days since he and I haven’t talked anymore, since I’ve made a decision to be leaving for Hungary. He might think that I am on cloud nine to be here but I actually ain’t that happy. Tell me, has that ship sailed?

I start to feel, when it rains it pours.

I keep asking to myself, what if I never come home again? What if I never taste the best coffee he used to made for me every morning? I do not want to ask the last question but it’s disturbing my mind so here it goes.

What if he falls in love again?

 

I want to run back to Chez Ribe.

I have to.